Minggu, 08 Januari 2017

Dahulu dan Sekarang Sudah Berbeda

   Semester 1, 2 dan sebentar lagi aku akan melewati semester 3. Tinggal hitungan jam lagi aku dan teman-teman mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan lainnya akan menjalankan Ujian Akhir Semester (UAS). Aku merasa semester 3 ini benar-benar berbeda dari semester sebelumnya. Apa yang berbeda? Jawabnya banyak 😂. Pada semester 1 dan 2 jika sudah selesai perkuliahan langsung pulang, di kampus hanya melakukan kegiatan perkuliahan saja tidak lebih dari itu (mahasiswa kupu-kupu), tidak pernah pulang kuliah sampai malam, mempunyai banyak waktu untuk nonton drama korea, masih bisa tidur siang, dan tidak pernah terlibat dalam organisasi/kepanitiaan. Sedangkan ketika semester 3, aku mulai terlibat dalam kepanitiaan. Dari yang tidak pernah pulang dari kampus malam hari, ketika semester 3 ini aku merasakan pulang malam hari paling malam jam 22.00 WIB sesuatu yang baru untukku. Di semester ini aku merasa bahwa waktu adalah sesuatu yang berharga untukku. Aku harus pintar-pintar mengatur waktuku dan jangan sampai aku di atur oleh waktu.

   Pernah sekali melakukan kesalahan fatal karena aku tidak bisa mengatur waktu. Ketika itu aku mendapatkan sebuah tugas. Tugas itu harus dikumpulkan dipertemuan terakhir. Dosen bersangkutan telah berkali-kali mengingatkan untuk mencicil. Tetapi aku tidak segera menyelesaikannya meskipun aku telah mencicilnya. Ketika malam hari sebelum pagi hari pengumpulan tugas aku malah ketiduran. Pagi hari aku terbagun lalu cepat-cepat mengerjakannya dan ternyata aku tidak mampu menyelesaikan semuanya. Benar-benar sesuatu yang terburuk selama aku kuliah. Aku merasa kecewa dengan diriku. Walaupun ternyata pagi harinya ketika aku sampai kampus ada juga teman yang belum selesai. Kejadian ini tetap menjadi catatan untukku agar tidak melakukan kesalahan yang sama. Meskipun melakukan kegiatan diluar akademik tetapi tetap harus bisa memanagemen waktu untuk yang akademik.

  Dalam beberapa kepanitiaan yang aku ikuti pada semester ini banyak pengalaman yang aku dapatkan. Aku bisa belajar untuk memahami keadaan dan lingkunganku, bisa melakukan komunikasi dengan baik dan belajar untuk lebih bertanggung jawab lagi. 

Rabu, 04 Januari 2017

FESTIVAL ANAK SHOLEH

"Menyongsong Generasi Emas yang Bertaqwa, Cerdas, dan Kreatif Bersama PGPAUD FAIR #5"


Dalam rangka ulangtahun PGPAUD UAD yang ke-5. PGPAUD mengadakan kegiatan festival anak sholeh yang berlangsung pada tanggal 6 November pukul 08.00 WIB-selesai di Kampus 5 UAD Jl. Ki Ageng Pemanahan 19 Nitikan Sorosutan Yogyakarta. Ragam lomba yang terdapat di acara ini antara lain mewarnai dan hafalan surat-surat pendek. Selain terdapat kegiatan lomba, juga ada spesial perform dari seorang pesulap yang bernama Derra Demetria. Kegiatan festival anak sholeh diikuti oleh anak-anak usia dini dari berbagai TK/RA bahkan ada KB juga dan dihadiri oleh perwakilan mahasiswa dari setiap kelas PGPAUD, Ormawa serta dosen PGPAUD.


Pemotongan tumpeng oleh ibu Febri selaku dosen PGPAUD


Lomba mewarnai


 
 Spesial perform dari Derra Demetria


 
Anak-anak bernyanyi


  Panitia PGPAUD FAIR #5





Cerita Anak

SALING MENOLONG

Di suatu taman yang indah dipenuhi pohon dan bunga bermekaran ada seekor Kupu-kupu, Kumbang, Belalang dan Lebah. Mereka hidup bersama dan saling menolong. Kupu-kupu memiliki sayap berwarna biru dengan tingkahnya yang lucu dan mengemaskan dia menari-nari setiap pagi. Kumbang juga suka menari seperti Kupu-kupu, akan tetapi Kumbang sedikit sombong. Sedangkan Belalang dan Lebah mereka suka bernyanyi. Belalang memiliki suara melengking dan Lebah memiliki suara yang merdu.

Pagi yang cerah, terlihat Kupu-kupu sedang menari dengan ceria di halaman rumahnya.
Tiba-tiba Belalang datang dan berkata, “Selamat pagi Kupu-kupu”
“Selamat pagi Belalang” jawab Kupu-kupu.
“Apakah kamu tahu jika akan ada perlombaan menari dan menyanyi?” tanya Belalang kepada Kupu-kupu.
“Aku belum tahu Belalang, terima kasih telah memberitahuku” kata Kupu-kupu.
“Iya sama-sama Kupu-kupu” jawab Belalang.
Kupu-kupu kembali bertanya, “Apakah Kumbang dan Lebah sudah tahu mengenai perlombaan ini, Belalang?”
Kemudian Belalang menjawab, “Lebah sudah tahu Kupu-kupu, tetapi Kumbang belum tahu”
“Kalau begitu Kumbang akan aku beritahu” kata Kupu-kupu.
            Setelah itu Belalang lalu pergi. Kemudian Kupu-kupu menuju ke rumah kumbang.
“Kumbang...kumbang...” panggil Kupu-kupu.                                              
“Iya sebentar” teriak Kumbang dari dalam rumah.
Tidak lama kemudian Kumbang membuka pintu dan melihat kalau ada Kupu-kupu di depan rumahnya.
“Ada apa?” tanya Kumbang singkat.
“Akan ada perlombaan menari dan menyanyi mari kita ikut Kumbang” kata Kupu-kupu.
“Tentu saja aku akan ikut, dan pasti aku akan menjadi juara pertama” balas Kumbang.
“Mari kita berlatih menari bersama Kumbang” ajak Kupu-kupu.
“Aku tidak mau, aku akan berlatih sendiri di rumah” jawab Kumbang.
“Baiklah kalau begitu Kumbang” kata Kupu-kupu penuh dengan kesedihan.

            Untuk mempersiapkan perlombaan menari dan menyanyi Kupu-kupu, Belalang serta Lebah berlatih bersama-sama setiap hari. Kupu-kupu berlatih menari sedangkan Belalang dan Lebah berlatih menyanyi. Kumbang berlatih menari sendiri di rumahnya. Ketika satu minggu sebelum hari perlombaan, Kumbang mengalami kecelakaan sehingga Kumbang terluka.
            “Tok....tok....tok...” suara ketukan keras di pintu rumah kupu-kupu.
“Kupu-kupu....Kupu-kupu....” terik Lebah panik. “Krekkk...” Kupu-kupu membuka pintu.
“Ada apa Lebah, kenapa kamu panik?” tanya Kupu-kupu.
“Itu..itu... Ku-ku-mbang” jawab Lebah.
“Kenapa dengan kumbang?” tanya kupu-kupu.
“Kumbang terluka” jawab Lebah.
“Mari kita menuju rumah Kumbang” kata Kupu-kupu dengan panik.
Kemudian Kupu-kupu dan Lebah menuju rumah kumbang.
           
Sesampainya di rumah kumbang, terlihat kalau Kumbang sedang kesakitan karena lukannya.
“Yang sabar dan kuat kumbang” kata Kupu-kupu.
“Bagaimana ini, aku tidak dapat mengikuti perlombaan” jawab Kumbang sambil menangis.
“Aku akan merawat dan membantumu Kumbang” kata Kupu-kupu.
“Benar kumbang, kami akan membantu kamu agar cepat sembuh dan setelah kamu sembuh mari kita berlatih bersama-sama” lanjut Lebah.
Kumbang hanya terdiam. Kupu-kupu menepati janjinya untuk merawat dan membantu Kumbang, setiap hari kupu-kupu datang ke rumah kumbang. Lebah dan Belalang juga datang untuk memberi makanan maupun minuman.
Dalam hati kumbang berkata, “Baik sekali Lebah dan Belalang apalagi Kupu-kupu, Kupu-kupu selalu merawat dan membantuku setiap hari sedangkan aku dulu sombong kepadanya.” Kumbang telah menyesali perbuatannya.

            Akhirnya dua hari sebelum hari perlombaan menari dan menyanyi, Kumbang telah sembuh dari lukannya. Kemudian Kumbang, Kupu-kupu, Belalang dan Lebah berlatih bersama-sama. Kupu-kupu dan Kumbang berlatih menari sedangkan Belalang dan Lebah berlatih menyanyi.
“Terimakasih Lebah dan Belalang kalian telah membantuku ketika aku terluka dan kamu Kupu-kupu aku sangat berterima kasih sekali padamu karena kamulah yang telah merawat dan membantuku setiap hari” kata Kumbang.
“Iya sama-sama” jawab Lebah dan Belalang kompak.
Kemudian Kupu-kupu berkata, “Iya temanku Kumbang sama-sama, aku senang dapat merawat dan membantu kamu”
Sekarang Kumbang tidak lagi sombong dan hidup damai serta bahagia bersama Kupu-kupu, Belalang dan Lebah.
           

Senin, 21 November 2016

Kisah Singkatku

Kurang lebih 2 tahun yang lalu, aku pernah bercita-cita menjadi guru Pendidikan Geografi. Yang bermimpi dapat masuk jurusan Pendidikan Geografi sebuah Universitas Negeri di daerahku. Tetapi dalam perjalanan untuk mengapai cita-cita itu ternyata Tuhan berkehendak lain. Sempat aku kecewa dan bingung harus bagaimana, untungnya dulu aku mengingat arti dari sebuah surat Al-Baqarah ayat 216 "...Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." Alhamdulillah kekecewaanku pun tidak berlarut-larut.

Aku tidak pernah menyangka kalau pada akhirnya masuk Universitas Swasta di daerahku. Benar-benar tidak terlintas di pikiranku karena aku terlalu fokus pada satu mimpiku. Kebetulan Universitas Swasta yang aku masuki juga tidak ada jurusan Pendidikan Geografi. Yaaaa... aku telah mengikhlaskan semua yang telah terjadi dan aku memilih jurusan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini atau di singkat PG PAUD. Kenapa waktu itu aku bisa memilih jurusan PG PAUD? Aku pikir karena aku menyukai anak-anak dan orangtuaku terutama ibu juga sangat mendukung keputusanku.

Tidak terasa sekarang aku sudah semester 3, waktu cepat berlalu ya? 😁. Banyak sekali pengetahuan baru yang aku dapatkan dan paradigma berpikir aku yang berubah terutama tentang Anak Usia Dini. Univeritas Swasta tempat aku membina ilmu ini berbasis Islam jadi aku juga banyak belajar tentang agamaku. Jika ditanya apakah aku bahagia? Iyaaa... aku bahagia, aku senang, aku bersyukur dengan apa yang aku jalani sekarang 😊.


Selasa, 04 Oktober 2016

Pendidikan Seks pada Anak Mencegah Terjadinya Kekerasan Seksual



Akhir-akhir ini banyak terjadi kekerasan seksual anak di bawah umur yang bahkan pelakunya dilakukan oleh orang terdekat. Kekerasan seksual pada anak adalah pemaksaan, ancaman atau keterpedayaan seorang anak dalam aktivitas seksual. Aktivitas seksual tersebut dapat meliputi melihat, meraba, tekanan, pencabulan dan pemerkosaan. Kekerasan seksual pada anak juga dapat diartikan sebagai suatu tindakan penyiksaan dimana dilakukan oleh orang dewasa atau orang yang lebih tua menggunakan anak untuk rangsangan seksualnya. Tindakan penyiksaan tersebut dapat berupa pemaksaan atau penekanan pelaku terhadap anak untuk melakukan aktivitas seksual, melihat alat kelamin anak (kecuali dalam hal medis), kontak fisik dengan alat kelamin anak maupun bagian vital lainnya (kecuali dalam hal medis), memaparkan hal yang tidak senonoh mengenai alat kelamin anak, dan menunjukkan video atau gambar porno kepada anak. Pelaku melakukan kekerasan seksual pada anak dengan cara menggunakan metode bujukan, misalnya dengan memberi hadiah atau mainan dan menggunakan metode tipuan, misalnya diajak ke tempat rekreasi hingga pada akhirnya berujung kekerasan seksual pada anak.

Di indonesia sendiri kekerasan seksual pada anak mengalami peningkatan setiap tahunnya. Bentuk kekerasan seksual yang dialami oleh anak juga beragam. Masalah kekerasan seksual ini sudah berlangsung sejak lama dan selalu mengalami peningkatan. Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa kekerasan seksual terhadap anak merupakan kejahatan luar biasa sebagimana dilaporkan oleh Mazrieva dari VOA Indonesia (2016). Menurut laporan dari Komisi Nasional Perlindungan Anak pada tahun 2010-2015 kasus kekerasan seksual mendominasi laporan kasus pelanggaran hak anak. Pada tahun 2015 Komisi Nasional Perlindungan Anak menerima 2898 laporan pelanggaran hak anak dari wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang dan Bekasi dimana 59% diantaranya merupakan laporan mengenai kekerasan seksual. Lebih lanjut menurut International Labor Organization (ILO) yang diperkuat oleh United Nation Children’s Fund (UNICEF) angka kekerasan seksual anak lebih besar. Dalam catatan kedua organisasi tersebut angka kekerasan seksual anak mencapai 70.000 setiap tahunnya (Eddyono, Sofian, Akbari, 2016: 1). 

Untuk mencegah terjadinya kekerasan seksual pada anak, maka orang tua harus selalu memperhatikan anak dan meluangkan waktunya untuk memberikan pengawasan kepada anak dan yang terpenting adalah memberikan pendidikan seks pada anak. Pendidikan seks juga sebaiknya dilakukan sejak dini, dilakukan dengan jujur dan disesuaikan dengan umur atau pemahaman anak. Hindari pengenalan bagian intim dengan penggantian nama atau istilah lain, tetapi tetap gunakanlah nama sebenarnya misalnya penis, vagina, dan payudara. Karena penggunaan istilah lain seperti burung untuk penis hanya akan membuat anak bingung. Ajarkan anak untuk menghargai dirinya dengan menjaga kebersihan tubuh setiap hari. Jangan sampai jika anak menanyakan tentang bagian tubuh tertentu, orang tua malah menertawakannya. Orang tua sebaiknya menjawab dan jawaban tersebut singkat dan seperlunya saja sesuai dengan pertanyaan, tidak perlu menjawab lebih dari yang dipertanyakan anak. 

Ketika di rumah biasakan anak untuk tidak berpakaian minim, pisahkan  kamar anak dengan orang tua atau saudara lawan jenisnya, biasakan juga untuk anak mengetuk kamar orang tua dengan cara orang tua terlebih dahulu mengetuk pintu apabila akan memasuki kamar anaknya. Orang tua juga harus mengenalkan perasaan marah, menyenangkan, menyedikan, membingungkan. Dan ajarkan kepada anak untuk bersikap tegas, judes bahkan berbohong ketika merasa keadaan anak terancam, ada orang yang memaksa anak untuk melakukan hal yang tidak disukai termasuk orang yang paling dekat sekalipun seperti kakak, guru atau teman. Tanamkan rasa malu sejak dini kepada anak, agar anak tahu bahwa alat kelamin adalah area pribadinya yang tidak boleh disentuh atau dilihat oleh sembarang orang. Berikan juga pendidikan seks kepada anak ketika anak berada di luar rumah. Seperti ketika ganti baju tidak boleh di tempat umum karena banyak orang, harus ganti di ruang ganti baju. Jika ada orang yang menyentuh bagian dada, perut, sekitar celana itu tidak boleh dan ajarkan anak untuk berteriak “tidak dan tolong” lalu lari menuju keramaian. Beritahu anak untuk menolak diberi permen, mainan, hadiah maupun diajak ikut dengan orang yang tidak dikenal ketika anak sendiri, tidak ada orang tua disampingnya.

Adanya pendidikan seks pada anak sejak dini ini akan membentengi diri anak dari kekerasan seksual, dapat menghindarkan dari pernikahan di luar nikah karena pergaulan bebas dan anak juga dapat lebih menjaga tubuhnya.

Kamis, 30 Juni 2016

Penyebab LGBT


LGBT adalah singkatan dari lesbian, gay, biseksual, transgender. Istilah tersebut kini sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat, baik itu di dunia maupun di Indonesia. Karena akhir-akhir ini banyak kaum LGBT yang menunjukkan eksistensinya secara terbuka, mereka tidak malu lagi dengan keadaan yang dialaminya. Di tambah, negara Amerika Serikat sebagai negara terkaya dan terkuat di dunia pada tanggal 26 juni 2015 melegalkan pernikahan sejenis dan LGBT. Dengan adanya pelegalan tersebut, kini kaum LGBT merasa terlindungi dan mempunyai hak.

Adapun penyebab LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender) anatar lain:
1.      Pendampingan Orangtua
Menurut Sigmund Freud, tahap ketiga yaitu tahap phallic (3-6 tahun) anak terikat dengan orangtua dari jenis kelamin yang berlawanan dan kemudian mengidentifikasikan dengan orangtua yang berjenis kelamin sama. Jika orang tua tidak melakukan pendampingan atau hanya Ayah/Ibu saja yang mendampingi maka anak akan mengalami problem seksual.
2.      Peran Orangtua
Porsi peran antara Ayah dan Ibu harus sama, tidak boleh salah satu saja yang mendominasi hari-harinya.
3.      Trauma
Pengalaman yang menakutkan akan menjadi trauma. Misalnya kekerasan yang dilakukan Ayah kepada Ibu kemudian terjadi perceraian. Anak melihat bagaimana Ayahnya melakukan kekerasan kepada Ibunya dan timbullah rasa benci anak perempuan tersebut kepada Ayahnya dan berujung membenci sosok laki-laki yang menyebabkan anak tersebut menjadi lesbian.
4.      Lingkungan dan Pergaulan
Erik H. Erikson menekankan pengaruh sosial dalam perkembangan kepribadian. Dapat dijabarkan bahwa lingkungan tempat tinggallah yang mempengaruhi anak menemukan jati diri mereka. Jika anak tinggal dengan kaum LGBT maka ada kemungkinan anak tersebut akan terpengaruh. Pergaulan antara teman sebaya yang berjenis kelamin sama juga merupakan penyebab LGBT, karena terlalu dalam hubungan pertemanan mereka yang dirasa teman sejenisnya itu yang paling bisa mengerti dan menyayangi dia kemudian pertemanan tersebut berujung hubungan yang menyimpang.
5.      Moral dan Akhlak
Seorang yang mempunyai moral dan akhlak yang baik tentu saja tidak melanggar norma yang ada pada masyarakat dan ajaran agama yang dianut. Karena pada hakekatnya  manusia sudah mempunyai khodrat masing-masing dan seharusnya mensyukuri apa yang sudah diberikan-Nya. 

Di Indonesia sendiri masalah LGBT masih menjadi kontroversi, ada beberapa pihak yang mendukung dan ada juga yang menentang keras keberadaan kaum LGBT.

Gangguan Perkembangan Autisme


Kurang bijak kiranya jika kita mengabaikan anak-anak disekitar kita yang tergolong berkebutuhan khusus, sementara anak-anak normal selalu diprioritaskan dalam hal apapun. Keberadaan anak berkebutuhan khusus harus kita perhatikan, dan keterbatasannya harus kita tangani. Salah satu gangguan pada anak usia dini yang kini mulai menjadi perhatian orangtua dan pendidik PAUD adalah gangguan perkembangan autisme.

Pengertian Autisme
Monks dkk., mengungkapkan bahwa autisme berasal dari kata autos yang berarti aku. Pada pengertian nonilmiah kata tersebut dapat ditafsirkan bahwa semua anak yang mengarah pada dirinya sendiri disebut dengan autisme.
            Sementara itu, Berk mengartikan autisme dengan istilah absorbed in the self atau keasyikan dalam dirinya sendiri. Sementara Wall mengartikan autisme sebagai aloof atau withdrawn, yang mana anak-anak dengan gangguan autisme ini tidak tertarik dengan dunia disekelilingnya. Kemudian, Tilton mengungkapkan bahwa pemberian nama autisme karena hal ini diyakini dari “keasyikan yang berlebihan” dalam dirinya sendiri.
            Berdasarkan berbagai arti tersebut, autisme secara sederhana dapat diartikan dengan sikap anak yang cenderung suka menyendiri karena terlalu asyik dengan dunianya sendiri. Dengan kata lain, anak dengan gangguan autisme adalah anak yang sibuk dengan urusannya sendiri ketimbang bersosialisasi dengan orang lain disekitarnya.

Jenis-jenis Autisme
Ditinjau dari kemunculannya/kejadiannya, anak dengan gangguan autisme dibagi menjadi dua macam, yaitu:
a.       Autisme Klasik
Anak yang mengalami gangguan autisme sejak dilahirkan.
b.      Autisme Regresi
Gangguan autisme muncul setelah anak berusia 1,5 hingga 2 tahun.

Penyebab Gangguan Autisme pada Anak Usia Dini
Berikut ini adalah beberapa dugaan penyebab autisme pada anak usia dini.
a.       Gangguan Susunan Saraf Pusat
b.      Gangguan pada Metabolisme (Sistem Pencernaan)
c.       Peradangan Dinding Usus
d.      Faktor Genetik
e.       Usia orangtua
f.       Keracunan Logam Berat

Ciri-ciri Anak dengan Gangguan Autisme
Berikut ini merupakan ciri-ciri anak usia dini dengan gangguan autisme pada anak usia dini.
a.      Interaksi Sosial
1)      Cuek terhadap lingkungan.
2)  Kontak mata sangat kurang, bahkan tidak mau menatap mata lawan bicaranya.
3)      Ekspresi muka kurang hidup.
4)      Tidak mau bermain dengan teman sebayanya.
5)      Suka bermain dengan dirinya sendiri.
6)      Cara bermain kurang variatif, kurang imajinatif, dan kurang bisa meniru.
7)    Tidak memiliki empati atau tidak dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain.
b.      Komunikasi
1)      Terlambat bicara.
2)    Tidak memiliki usaha untuk mengimbangi komunikasi dengan cara lain selain bicara.
3)      Jika bicara,bicaranya tidak untuk berkomunikasi.
4)      Sering menggunakan bahasa yang aneh dan diulang-ulang.
5)      Tidak dapat memahami pembicaran orang lain.
c.       Perilaku
1)      Cuek terhadap lingkungan
2)    Perilaku tak terarah, seperti suka mondar-mandir, lari-lari, manjat-manjat, berputar-putar,melompat-lompat, dan lainnya.
3)  Sering kali sangat terpukau pada benda-benda yang berputar atau benda-benda yang bergerak.
4)     Ada gerakan-gerakan aneh yang khas dan diulang-ulang.
5)     Terpaku pada satu kegiatan rutin yang tidak ada gunanya.
6)   Mempertahankan satu permainan atau lebih dengan cara yang khas dan berlebihan.

Penanganan Anak Usia Dini dengan Gangguan Autisme
a.       Terapi Perilaku
b.      Terapi Bermain
c.       Terapi Wicara


 Daftar Pustaka
§  Yuwono, Joko. 2009. Memahami Anak Autistik : Kajian Teoritik dan Empirik. Yogyakarta: Alfabeta.
§  Prasetyono,  Dwi Sunar. 2008. Biarkan Anakmu Bermain: Mengenal Manfaat dan Pengaruh Positif Permainan bagi Perkembangan Psikologi Anak. Yogyakarta: Diva Press.